Oleh: Andri Satria Masri, S.E., M.E. (Kepala DLHPKPP Padang Pariaman)
PADANG PARIAMAN — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra Barat mulai menunjukkan peningkatan seiring berlangsungnya musim kemarau dan menguatnya fenomena El Niño. Meski belum separah sejumlah provinsi di Sumatra bagian selatan dan Kalimantan, beberapa kabupaten di Sumbar telah mencatat titik panas dan kejadian karhutla.
Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sumatra Barat periode 1–3 September 2026 mencatat 19 titik hotspot yang tersebar di lima kabupaten, yakni Dharmasraya sebanyak 5 titik, Pesisir Selatan 5 titik, Sijunjung 5 titik, Pasaman 3 titik, dan Lima Puluh Kota 1 titik.
Dharmasraya menjadi salah satu wilayah yang paling menonjol. Kejadian karhutla kembali terjadi di Nagari Panyubarangan, Kecamatan Timpeh, pada 9 September 2026, bahkan bara api kembali menyala setelah tertiup angin. Sebelumnya, kebakaran juga terjadi di Nagari Siguntur, Kecamatan Sitiung, pada 6 September dan berhasil dipadamkan oleh tim gabungan Damkar, TNI dan Polri.
Analisis independen LBH Padang bahkan mencatat 293 anomali termal dengan estimasi 440,91 hektare jejak karhutla di Sumatra Barat sepanjang Agustus–September 2026. Angka tersebut masih merupakan indikasi berbasis citra satelit yang membutuhkan verifikasi lapangan.
Curah Hujan Menjadi Faktor Pembeda
Salah satu kunci untuk memahami perbedaan tingkat kerawanan antardaerah adalah kondisi curah hujan.
Prediksi BMKG untuk September 2026 menempatkan Dharmasraya dan Solok Selatan dalam kategori curah hujan rendah, 0–100 mm per bulan. Kondisi ini sejalan dengan munculnya titik api yang lebih aktif dan berulang di wilayah tersebut.
Sementara itu, Padang Pariaman berada dalam kategori curah hujan menengah, 100–300 mm per bulan, bersama Agam dan Pasaman Barat. Hingga laporan terbaru dalam tulisan ini, belum terdapat hotspot signifikan yang dilaporkan di Padang Pariaman.
Namun, kondisi relatif aman tersebut tidak boleh dimaknai sebagai bebas risiko. Curah hujan kategori menengah tetap berada dalam konteks musim kemarau, sementara kondisi lebih kering dari normal dapat meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran. Terutama kawasan pesisir, lahan terbuka dan wilayah yang berbatasan dengan kabupaten lain perlu tetap mendapatkan perhatian.
El Niño Memperbesar Risiko
Kondisi tersebut tidak terlepas dari dinamika iklim nasional. La Niña lemah yang berlangsung sejak Oktober 2025 berakhir pada Februari 2026, kemudian kondisi beralih ke fase netral sebelum berkembang menjadi El Niño.
Pada Juli 2026, BMKG mengonfirmasi kondisi El Niño kuat yang beriringan dengan musim kemarau lebih kering dan lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia. BMKG juga memproyeksikan El Niño bertahan setidaknya hingga awal kuartal pertama 2027.
Dampaknya terlihat pada peningkatan luas karhutla nasional. Luas area terbakar yang tercatat mencapai 107.465,47 hektare hingga akhir Juni 2026, kemudian meningkat menjadi 202.010,96 hektare hingga Juli 2026. Artinya, sekitar 94.545 hektare tambahan area terbakar terjadi hanya dalam satu bulan.
Sumatra Barat memiliki faktor alam yang sedikit berbeda. Hujan lebat lokal masih beberapa kali terjadi meskipun berada dalam periode El Niño. Kondisi tersebut ikut menahan penyebaran api agar tidak berkembang seluas wilayah yang mengalami kekeringan lebih ekstrem.
Padang Pariaman Jangan Sampai Terlambat Bertindak
Bagi Padang Pariaman, situasi saat ini dapat dibaca sebagai peringatan dini, bukan alasan untuk lengah.
Belum munculnya hotspot signifikan merupakan momentum untuk melakukan tindakan pencegahan sebelum kebakaran berkembang. Pengawasan sebaiknya tidak hanya diarahkan kepada kawasan hutan, tetapi juga lahan penggunaan lain, perkebunan, lahan terbuka dan kawasan yang berpotensi menjadi sumber pembakaran.
Hal ini penting karena data yang dihimpun dalam tulisan ini menunjukkan sekitar 46 persen kebakaran terjadi di luar kawasan hutan resmi (APL/non-kawasan hutan). Dengan demikian, pencegahan karhutla membutuhkan pendekatan lintas sektor dan tidak dapat hanya dibebankan kepada institusi yang menangani kawasan kehutanan.
Bagi Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, langkah yang paling strategis bukan menunggu munculnya titik api, melainkan memperkuat pencegahan, deteksi dini, edukasi masyarakat, pengawasan aktivitas pembakaran dan koordinasi lintas OPD hingga tingkat nagari.
Sebab, ketika api sudah membesar, biaya sosial, ekonomi dan lingkungan yang harus ditanggung akan jauh lebih besar.
Karhutla tidak selalu dimulai dari api yang besar. Sering kali ia bermula dari satu titik kecil yang terlambat kita cegah.
(Diolah dari berbagai sumber berita, informasi dan data. Foto: www.iqair.com)